Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku

Bukan sekali dua kali pikiran untuk mencari keyakinan yang lebih tepat melintasi pikiranku. Bukan karena ada yang salah dengan keyakinanku, tetapi ada yang salah dengan kebanyakan orang yang meyakini keyakinan yang sama dengan diriku. Jika mereka yang meyakini keyakinanku adalah sekumpulan orang bodoh, apakah aku termasuk orang bodoh juga?

Keyakinanku akan agama ini memang bukan berasal dari pencarian jati diri bertahun – tahun, pengasingan diri di kesepian, atau gema lonceng kebahagiaan karena mendengar seorang anak manusia mendendangkan kitab suci. Keyakinan ini ada karena turun temurun diyakini oleh keluargaku, hingga akhirnya diwariskan kepadaku. Apakah kami salah?

Berada di tengah kumpulan supir angkutan kota yang bermabukkan di terminal, melupakan anak istrinya demi seorang jalang, membuatku bersyukur atas keyakinanku akan agama yang kuanggap sempurna ini, tak sabar rasanya ingin aku segera menimba ilmu lebih banyak dan mengajak mereka menikmati oase rasa syukur yang kurasakan.

Namun ajakan berbuat kebajikan dari orang – orang suci itu terdengar sumbang untukku. Muncul beragam pertanyaan yang tak bisa aku jawab dan sayangnya tak bisa mereka jawab. Mungkin ini adalah salah satu kesulitan dunia, tidak semua niat baik bisa tersampaikan dengan baik. Mungkin karena itu pula, Tuhan yang kini kupercaya memberi sedikit upah bagi niat baik dan hanya akan memberi lebih banyak jika memang sudah dilakukan dan aku percaya, jauh lebih banyak jika memang bisa tersampaikan dengan baik.

Tuhan memberi manusia kebebasan untuk memilih, mengapa para manusia yang mempercayai-Nya justru sombong mengekangku dengan berbagai aturan, “atas nama Tuhan”, ujar mereka. Bising! Aku tak suka keramaian yang mereka ciptakan di kepalaku. Seenaknya saja menjelajah hatiku tanpa permisi hanya karena menurut mereka keyakinanku sama dengan mereka.

Ingin kuteriakkan kepada mereka, “keyakinanku tak sama denganmu, tak pernah sama, dan tak akan pernah sama!”. Karena memang begitulah adanya. Hingga aku bisa kembali ke sudut terminal, tempatku meresapi kedamaian, bersama Tuhan dan para pemabuk itu.