-
esviai posted this
Dahlan Iskan di Mata Seorang Shabrina
Dahlan Iskan dan Joko Widodo (a.k.a Jokowi) adalah dua sosok yang sedang naik daun di mata masyarakat. Di antara para politikus yang kerap kali menerima kritikan, mereka menerima sambutan hangat dari masyrakat karena kesederhanaan yang mereka tunjukkan dalam kehidupan sehari – hari. Di samping itu mereka juga memiliki segudang prestasi dan sejarah pribadi yang boleh dibilang cukup mumpuni.
Sebuah cerita diangkat menjadi headline di beberapa koran, social network dan perbincangan warung kopi. Adalah cerita mengenai Dahlan Iskan yang memilih untuk menumpangi KRL Commuter Line untuk menghadiri rapat dengan SBY dibandingkan dengan memanfaatkan layanan mobil dinas yang disediakan untuk beliau. Beberapa kalangan memuja kesederhanaan yang dia tunjukkan, sementara beberapa yang lain menganggap dia hanya mencari muka, menuju pemilihan presiden.
Saya berada di lingkaran yang berbeda dengan kedua kalangan itu. Saya merasa kagum dengan sosok seorang Dahlan Iskan yang berani berdesak – desakkan di KRL, namun juga menyayangkan pilihannya jika memang dia memilih untuk menggunakan KRL untuk melaksanakan tugas sehari – harinya.
Kesederhanaan yang telah dilakukannya sejauh ini memang membuahkan prestasi yang tidak sembarangan. Namun apa salahnya memanfaatkan fasilitas yang disediakan untuknya, sehingga beliau bisa melakukan lebih banyak lagi untuk rakyat. Karena mungkin kelelahan karena harus berinteraksi dengan masyarakat selama di KRL, atau menikmati jadwal yang barantakan, atau kalau naik ojek, ada rasa mengantuk karena terkena angin semilir. Hal – hal kecil yang bisa mengalihkan seseorang dari potensi maksimalnya bisa di minimalisir sebanyak mungkin.
Jika memang beliau ingin mendengarkan suara rakyat, mungkin bisa sekedar sebulan sekali, saat jadwal kegiatannya yang lain tidak terlalu padat, atau di waktu senggangnya yang lain, atau di waktu – waktu yang memang sudah dijadwalkan untuk beliau berinteraksi dengan masyarakat.
Saya tidak menentang kesederhanaan yang ditunjukkannya, selama beliau melakukan semua tugas yang diembannya dengan baik. Namun, jika memang beliau ingin berbuat banyak untuk masyarakat, mengapa tidak memaksimalkan semua sarana dan prasarana yang dapat digunakan? Toh akirnya akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik untuk masyarakat?!